Ditemani BLADES, Iman Adinugraha bahagiakan Warung Nasi Uduk

Gemoy Info

News43 Dilihat

Palabuhanratu, Sukabumi — Udara pagi masih segar ketika sekelompok pemuda dari komunitas BLADES melangkah ringan di trotoar Alun-Alun Palabuhanratu. Di antara mereka, hadir sosok yang tak asing bagi masyarakat Sukabumi: Iman Adinugraha, Anggota DPR RI Fraksi Demokrat, Anggota Badan Sosialisasi MPR RI, sekaligus Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Sukabumi, Minggu, 07 September 2025.

Jalan pagi itu bukan agenda formal. Ia adalah kebiasaan warga, ruang alami untuk menyapa, berbagi tawa, dan merawat tubuh serta kebersamaan. Selepas berolahraga, Iman menyempatkan diri mampir di sebuah warung kaki lima di samping kantor Telkom. Warung itu sederhana: meja kayu, panci kecil, dan aroma gorengan yang akrab di hidung rakyat kecil.

Di sana, Iman melihat seorang ibu bersama anaknya. Mereka tampak serius menata gorengan bala-bala, tahu isi, dan nasi uduk. Meski hanya berjualan makanan ringan, wajah keduanya memancarkan keceriaan yang tulus.

“Saya lihat ibu dan anak itu sangat ceria walaupun hanya berjualan gorengan,” ucap Iman, mengenang momen tersebut.

Sambil menikmatai nasi uduk, Iman mereneung sejenak, memperhatikan. Lalu ia menyapa hangat, dan merogoh saku. Ia mengeluarkan sejumlah uang kecil yang menurutnya cukup untuk menambah modal sang ibu pemilik warung kecil.

“Semoga bisa menambah modal dan manfaat buat ibu,” terangnya, sambil menyerahkan bantuan spontan itu.

Wajah sang ibu berubah. Haru menyelimuti matanya. Ia tak menyangka, dari warung kecil yang nyaris tak terlihat, datang seorang tokoh/politisi/pemimpin yang bukan hanya membeli, tapi juga memberi.

“Terlihat haru wajah ibu itu bakhan menangis matanya berkaca kaca, dan saya hanya berharap, semoga para UMKM kita terus tumbuh dan berkembang,” jelas Iman.

Iman menegaskan bahwa UMKM bukan sekadar pelaku ekonomi, melainkan fondasi ketahanan nasional.

“UMKM kita adalah pondasi ekonomi nasional, Di tangan mereka, roda ekonomi lokal berputar. Di warung-warung kecil seperti ini, harapan rakyat dibakar setiap pagi.” terangya.

Kisah itu bukan tentang jumlah uang, melainkan tentang kehadiran. Tentang pemimpin yang tidak hanya bicara di ruang sidang, tapi menyapa di pinggir jalan. Tentang tangan yang memberi bukan karena kewajiban, tapi karena cinta.

Di tengah lanskap politik yang sering terasa formal dan jauh, sosok Iman Adinugraha menghadirkan kehangatan yang langka. Ia bukan hanya legislator, tapi penyambung doa. Ia bukan hanya tokoh, tapi sahabat rakyat. Dan pagi itu, di warung gorengan sederhana, demokrasi menemukan wajahnya: hangat, manusiawi, dan penuh berkah.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *